
TIDAK
EFEKTIFNYA ORGANISASI PSSI
Disusun
Oleh
Hendri
Setia Pratama
120910201025
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
JEMBER
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena atas rahmat-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Tidak
Efektifnya Organisasi PSSI. Saya mengucapkan terima kasih kepada Drs. M.
Affandi, MA karena dengan bimbingan beliau saya bisa memperoleh tambahan ilmu
selama mengikuti kegiatan perkuliahan di Universitas Jember.
Makalah
ini membahas tentang ketidak efektifan yang terjadi dalam organisasi PSSI. Makalah
ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang apa yang
sedang terjadi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Sehingga pembaca dapat
menaggapi dan memberi saran pemecahan masalah atas fenomena ini. Karena makalah
ini disajikan dengan bentuk dan pembahasan materi yang sederhana. Sehingga diharapkan pembaca
mudah untuk memahami materi yang ada.
Jika
ditemukan informasi atau data yang kurang tepat dimohon pembaca merujuk pada
sumber asli. Bagaimanapun makalah ini masih jauh dari sempurna. Saran dan
kritik sangat diharapkan sebagai bahan untuk penyempurnaan pada penyusunan
makalah yang akan datang. Kami ucapkan terima kasih kepada yang telah membimbing kami dalam penyusunan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat sebagaimana mestinya.
DAFTAR ISI
Halaman
Sampul..................................................................................................i
Kata Pengantar.....................................................................................................ii
Daftar
Isi..............................................................................................................iii
Bab
1 Pendahuluan.............................................................................................. .1
Bab
2 Pembahasan.............................................................................................. .3
Bab
3 Penutup..................................................................................................... .6
Daftar Pustaka..................................................................................................... .7
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seringkali kita berbicara mengenai
dua kata yang sering dibicarakan secara bersamaan. Kata efektif dan
efisiensi.
Dimana ada kata efektif pasti juga ada kata efisien. Tapi, apakah kita tahu
makna dari masing-masing dari kedua kata tersebut. Misalnya dalam kalimat,
Dengan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas atau dengan penggunaan secara efektif dan efisien dapat mengurangi
pemborosan energi. Efektif dan efisien tersebut menjadi kata yang tidak
terpisahkan.
Efektivitas
menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil
akhir) yang telah ditetapkan secara tepat. Organisasi tidak hanya dituntut
mengejar tujuan semata, akan tetapi bagaimana tujuan itu bisa dicapai dengan
cara efektif dan efisien. Organisasi yang mencapai suatu kesuksesan adalah
organisasi yang mampu menciptakan secara bersama-sama tingkat efisiensi dan
efektivitas yang tinggi.
Menurut
Drucker, efisiensi berarti mengerjakan sesuatu dengan benar (doing things
right), sedangkan efektif adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the
right things). Sederhananya, efisiensi menunjukkan kemampuan organisasi dalam
menggunakan sumber daya dengan benar dan tidak ada pemborosan.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa saja keputusan organisasi PSSI
yang kurang efektif dan efisien ?
2. Bagaimana organisasi yang efektif
dan efisien itu ?
C.
Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui proses
organisasi yang efektif dan efisien.
2. Mahasiswa dapat membandingkan antara
organisasi yang efektif dan efisien dengan organisasi yang tidak efektif dan
tidak efisien.
BAB 2
PEMBAHASAN
Sejarah PSSI
Persatuan Sepak Bola Seluruh
Indonesia, disingkat PSSI, adalah organisasi induk yang bertugas mengatur
kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 April
1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum
pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. PSSI dibentuk pada tanggal 19
April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai
organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada
kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan.
Awal Kisruh PSSI dan Keputusan yang
tidak efektif
Kisruh PSSI sebetulnya dimulai
ketika Nurdi Halid mulai berkuasa di PSSI tahun 2003. Semenjak itu Nurdin Halid
meletakkan orang-orangnya di pengprov seluruh Indonesia sehingga kekuasaannya
langgeng hingga 2011. Nurdin Halid pun mundur seiring masa jabatanya yang telah
habis dan banyaknya tekanan. Hasil Kongres Luar Biasa (KLB) memilih Djohar
Arifin sebagai Ketua Umum PSSI baru. Terpilihnya Djohar Arifin sebagai Ketua
Umum tak lantas menyelesaikan masalah, Justru menambah permasalahan baru yang
tak terselesaikan sampai saat ini. Banyak keputusan yang diambil oleh Ketua
UmumPSSI baru yakni Djohar Arifin tidak
efektif. Keputusan-keputusan itu antara lain :
1.
Hasil Kongres PSSI Terkait Jumlah Peserta Liga Primer
Menetapkan
bahwa peserta Liga Super hanya 18 klub, tetapi pada era Djohar Arifin peserta
Liga Primer (Super) membengkak menjadi 24 peserta, dengan sistem kompetisi
penuh. Sontak klub-klub yang bermodal kecil dan mandiri tanpa bantuan APBD
meradang karena dengan peserta yang membengkak menggunakan kompetisi penuh
justru akan melambungkan biaya yang akan dikeluarkan klub untuk tiap musimnya
padahal pendapatan mereka sangat terbatas.
2.
Melakukan Perekrutan Peserta Klub Liga Primer yang Tidak
Efektif
Direkrutnya beberapa klub diluar mekanisme kompetisi yang seharusnya, merupakan bukti perekrutan yang dilakukan PSSI tidak efektif untuk meredam kisruh jilid II . Misalnya ketika Persema,Persibo,dan PSM Makassar telah dihukum degradasi ke divisi I karena mengikuti LPI ketika LSI di era Nurdin Halid telah digelar, namun saat ini klub tersebut kembali pada kasta tertinggi Liga Primer tanpa harus mengikuti kompetisi di divisi I/Utama terlebih dahulu.
Direkrutnya beberapa klub diluar mekanisme kompetisi yang seharusnya, merupakan bukti perekrutan yang dilakukan PSSI tidak efektif untuk meredam kisruh jilid II . Misalnya ketika Persema,Persibo,dan PSM Makassar telah dihukum degradasi ke divisi I karena mengikuti LPI ketika LSI di era Nurdin Halid telah digelar, namun saat ini klub tersebut kembali pada kasta tertinggi Liga Primer tanpa harus mengikuti kompetisi di divisi I/Utama terlebih dahulu.
3.
Menciptakan Kompetisi yang Tidak Efektif dan Efisienya
Sebagai lanjutan dari poin pertama yang dipicu penggingkaran Statuta PSSI terkait jumlah klub peserta Liga Primer , setidaknya jikalau PSSI era Djohar Arifin menjalankan kompetisi dengan 24 klub, bisa dibayankan berapa lama kompetisi digelar?, berapa banyak modal yang harus digelontorkan?,berapa banyak sponsor /investor yang sanggup mendanai klub?, berapa klub yang harus dikorbankan?. Sepertinya setumpuk persoalan tersebut membuat kompetisi no.1 di Indonesia tidak akan efektif dan efisien.
Sebagai lanjutan dari poin pertama yang dipicu penggingkaran Statuta PSSI terkait jumlah klub peserta Liga Primer , setidaknya jikalau PSSI era Djohar Arifin menjalankan kompetisi dengan 24 klub, bisa dibayankan berapa lama kompetisi digelar?, berapa banyak modal yang harus digelontorkan?,berapa banyak sponsor /investor yang sanggup mendanai klub?, berapa klub yang harus dikorbankan?. Sepertinya setumpuk persoalan tersebut membuat kompetisi no.1 di Indonesia tidak akan efektif dan efisien.
4.
Kebohongan Terkait Perekrutan Pemain Timnas
Terkait diskriminasi pemain PSSI diera Djohar Arifin, rupanya PSSI telah melakukan kebohongan terhadap publik. Alasan adanya larangan dari FIFA terhadap pemain yang bermain diluar Liga Primer dilarang untuk memperkuat timnas negaranya merupakan suatu kebohongan PSSI untuk melakukan pembenaran atas diskriminasi perekrutan pemain timnas, setelah ditelusuri nyatanya larangan itu tidak ada. Kebohongan lainya, PSSI telah melakukan pembohongan dengan mengirim surat pada FIFA yang berisi bahwa 12 klub IPL merupakan anggota 18 klub ISL, padahal jelas – jelas ISL merupakan kompetisi yang diharamkan menurut PSSI di era Djohar Arifin.
Terkait diskriminasi pemain PSSI diera Djohar Arifin, rupanya PSSI telah melakukan kebohongan terhadap publik. Alasan adanya larangan dari FIFA terhadap pemain yang bermain diluar Liga Primer dilarang untuk memperkuat timnas negaranya merupakan suatu kebohongan PSSI untuk melakukan pembenaran atas diskriminasi perekrutan pemain timnas, setelah ditelusuri nyatanya larangan itu tidak ada. Kebohongan lainya, PSSI telah melakukan pembohongan dengan mengirim surat pada FIFA yang berisi bahwa 12 klub IPL merupakan anggota 18 klub ISL, padahal jelas – jelas ISL merupakan kompetisi yang diharamkan menurut PSSI di era Djohar Arifin.
Atas
keputusan-keputusan yang tidak rasional ini akhirnya menimbulkan konflik yang tidak
kunjung usai. Sehingga prestasi tim nasional Indonesia menjadi kabing hitam
dari konflik ini. Rentetan masa paceklik yang dialami oleh Tim Nasional Indonesia
ini dilansir akibat keputusan-keputusan Ketua Umum yang mementingkan satu
golongan saja. Di tambah lagi berbagai peristiwa yang terus-menerus mendera
bangsa ini tidak bisa dipungkiri turut membuat persepak bolaan di Indonesia
semakin terpuruk dalam hal prestasi, baik di tingkat regional maupun
internasional.
Organisasi yang Efektif dan Efisien
Sebaiknya
PSSI lebih mementingkan kemajuan persepak bolaan di Indonesia daripada sibuk
mengurusi konflik dengan lembaga lain. Jika PSSI tidak segera menyelesaikan
konflik ini maka bukan memajukan persepak bolaan tetapi malah menghancurkan
persepak bolaan di Indonesia. Masih banyak yang harus dibenahi dalam organisasi
ini baik masalah intern maupun masalah eksternnya. Sehingga PSSI menjadi
organisasi yang mampu memajukan melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan bersama. Yang harus diperhatikan oleh pemimpin PSSI dalam
membuat organisasi yang efektif dan efisien adalah :
1.
Sasarannya Jelas
Disini seorang
pemimpin harus membuat suatu sasaran yang akan dicapai oleh organisasi dengan
pertimbangan-pertimbangan yang telah disepakati sebelumnya. Dan pemimpin harus
mengarahkan atau mendorong anggotanya untuk saling bekerja sama mencapai tujuan
bersama tersebut.
2.
Keterampilan relevan
Tim yang efektif haruslah terdiri
dari anggota-anggota yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang relevan baik
keterampilan teknis maupun keterampilan antar-pribadi.
3.
Saling percaya
Tim yang efektif bercirikan
kepercayaan timbal balik yang tinggi di kalangan anggota, artinya
anggota-anggota yakin akan integritas, watak, dan kemampuan satu sama yang
lain. Organisasi haruslah menciptakan budaya yang penuh kepercayaan dengan
menghargai keterbukaan, kejujuran, dan proses kerja sama dan yang mendorong
keterlibatan karyawan serta otonomi karyawan.
4.
Komitmen yang disatukan
Para anggota tim yang efektif
menampilkan dedikasi dan loyalitas yang hebat terhadap timnya. Mereka rela
melakukan apa saja yang harus dilakukan untuk menolong berhasilnya tim mereka.
5.
Komunikasi yang baik
Anggota-anggota mampu menyampaikan
pesan-pesan satu sama lain yang gampang dan dimengerti dengan jelas baik verbal
maupun lisan
6.
Keterampilan negosiasi
Tim yang efektif cenderung bersifat
fleksibel dan terus-menerus membuat penyesuaian. Fleksibilitas ini menuntut
anggota-anggota tim untuk memiliki keterampilan negosiasi yang memadai
7.
Kepemimpinan yang memadai
Pemimpin yang efektif daapt
memotivasi suatu tim untuk mengikuti mereka menempuh situasi-situasi yang
paling sulit dengan cara membantu memperjelas tujuan.
8.
Dukungan Internal dan Eksternal
Maksudnya adalah iklim yang
mendukung. Tim harus diberikan infrastruktur yang memadai seperti pelatihan,
sistem pengukuran yang dimengerti oleh tim untuk mengevaluasi kinerja
keseluruhan. Secara eksternal, manajemen harus memberikan sumberdaya yang
dibutuhkan. Dapat juga membentuk iklim secara eksternal yang mendukung
pekerjaan tim.
Jika
semuanya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka organisasi yang efektif dan efisien
sudah dapat dikatakan berhasil dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar