Kamis, 13 Desember 2012

Tidak Efektifnya Organisasi PSSI



Description: F:\data FD\unej-warna.jpg

TIDAK EFEKTIFNYA ORGANISASI PSSI



Disusun Oleh
Hendri Setia Pratama
120910201025

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena atas rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Tidak Efektifnya Organisasi PSSI. Saya mengucapkan terima kasih kepada Drs. M. Affandi, MA karena dengan bimbingan beliau saya bisa memperoleh tambahan ilmu selama mengikuti kegiatan perkuliahan di Universitas Jember.
Makalah ini membahas tentang ketidak efektifan yang terjadi dalam organisasi PSSI. Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang apa yang sedang terjadi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Sehingga pembaca dapat menaggapi dan memberi saran pemecahan masalah atas fenomena ini. Karena makalah ini disajikan dengan bentuk dan pembahasan materi  yang sederhana. Sehingga diharapkan pembaca mudah untuk memahami materi yang ada.
Jika ditemukan informasi atau data yang kurang tepat dimohon pembaca merujuk pada sumber asli. Bagaimanapun makalah ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik sangat diharapkan sebagai bahan untuk penyempurnaan pada penyusunan makalah yang akan datang. Kami ucapkan terima kasih kepada  yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat sebagaimana mestinya.


DAFTAR ISI

Halaman Sampul..................................................................................................i     
Kata Pengantar.....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
Bab 1 Pendahuluan..............................................................................................       .1
Bab 2 Pembahasan.............................................................................................. .3   
Bab 3 Penutup..................................................................................................... .6
Daftar Pustaka.....................................................................................................       .7



 
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Seringkali kita berbicara mengenai dua kata yang sering dibicarakan secara bersamaan. Kata efektif dan efisiensi.  Dimana ada kata efektif pasti juga ada kata efisien. Tapi, apakah kita tahu makna dari masing-masing dari kedua kata tersebut. Misalnya dalam kalimat, Dengan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas atau dengan penggunaan secara efektif dan efisien dapat mengurangi pemborosan energi. Efektif dan efisien tersebut menjadi kata yang tidak terpisahkan.
Efektivitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil akhir) yang telah ditetapkan secara tepat. Organisasi tidak hanya dituntut mengejar tujuan semata, akan tetapi bagaimana tujuan itu bisa dicapai dengan cara efektif dan efisien. Organisasi yang mencapai suatu kesuksesan adalah organisasi yang mampu menciptakan secara bersama-sama tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi.
Menurut Drucker, efisiensi berarti mengerjakan sesuatu dengan benar (doing things right), sedangkan efektif adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the right things). Sederhananya, efisiensi menunjukkan kemampuan organisasi dalam menggunakan sumber daya dengan benar dan tidak ada pemborosan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja keputusan organisasi PSSI yang kurang efektif dan efisien  ?
2.      Bagaimana organisasi yang efektif dan efisien itu ?
C.    Tujuan
1.      Mahasiswa dapat mengetahui proses organisasi yang efektif dan efisien.
2.      Mahasiswa dapat membandingkan antara organisasi yang efektif dan efisien dengan organisasi yang tidak efektif dan tidak efisien.


BAB 2
PEMBAHASAN
Sejarah PSSI
            Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, disingkat PSSI, adalah organisasi induk yang bertugas mengatur kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 April 1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan.
Awal Kisruh PSSI dan Keputusan yang tidak efektif
            Kisruh  PSSI sebetulnya dimulai ketika Nurdi Halid mulai berkuasa di PSSI tahun 2003. Semenjak itu Nurdin Halid meletakkan orang-orangnya di pengprov seluruh Indonesia sehingga kekuasaannya langgeng hingga 2011. Nurdin Halid pun mundur seiring masa jabatanya yang telah habis dan banyaknya tekanan. Hasil Kongres Luar Biasa (KLB) memilih Djohar Arifin sebagai Ketua Umum PSSI baru. Terpilihnya Djohar Arifin sebagai Ketua Umum tak lantas menyelesaikan masalah, Justru menambah permasalahan baru yang tak terselesaikan sampai saat ini. Banyak keputusan yang diambil oleh Ketua UmumPSSI baru yakni Djohar  Arifin tidak efektif. Keputusan-keputusan itu antara lain :
1.      Hasil Kongres PSSI Terkait Jumlah Peserta Liga Primer
Menetapkan bahwa peserta Liga Super hanya 18 klub, tetapi pada era Djohar Arifin peserta Liga Primer (Super) membengkak menjadi 24 peserta, dengan sistem kompetisi penuh. Sontak klub-klub yang bermodal kecil dan mandiri tanpa bantuan APBD meradang karena dengan peserta yang membengkak menggunakan kompetisi penuh justru akan melambungkan biaya yang akan dikeluarkan klub untuk tiap musimnya padahal pendapatan mereka sangat terbatas.

2.      Melakukan Perekrutan Peserta Klub Liga Primer yang Tidak Efektif
Direkrutnya beberapa klub diluar mekanisme kompetisi yang seharusnya, merupakan bukti  perekrutan yang dilakukan PSSI tidak efektif untuk meredam kisruh jilid II . Misalnya ketika Persema,Persibo,dan PSM Makassar telah dihukum degradasi ke divisi I karena mengikuti LPI ketika LSI di era Nurdin Halid telah digelar, namun saat ini klub tersebut kembali pada kasta tertinggi Liga Primer tanpa harus mengikuti kompetisi di divisi I/Utama terlebih dahulu.
3.      Menciptakan Kompetisi yang Tidak Efektif dan Efisienya
Sebagai lanjutan dari poin pertama yang dipicu penggingkaran Statuta PSSI terkait jumlah klub peserta Liga Primer , setidaknya jikalau PSSI era Djohar Arifin menjalankan kompetisi dengan 24 klub, bisa dibayankan berapa lama kompetisi digelar?, berapa banyak modal yang harus digelontorkan?,berapa banyak sponsor /investor yang sanggup mendanai klub?, berapa klub yang harus dikorbankan?. Sepertinya setumpuk persoalan tersebut membuat kompetisi no.1 di Indonesia tidak akan efektif dan efisien.
4.      Kebohongan Terkait Perekrutan Pemain Timnas
Terkait diskriminasi pemain PSSI diera Djohar Arifin, rupanya PSSI telah melakukan kebohongan terhadap publik. Alasan adanya larangan dari FIFA  terhadap pemain yang bermain diluar Liga Primer dilarang untuk memperkuat timnas negaranya merupakan suatu kebohongan PSSI untuk melakukan pembenaran atas diskriminasi perekrutan pemain timnas, setelah ditelusuri nyatanya larangan itu tidak ada. Kebohongan lainya, PSSI telah melakukan pembohongan dengan mengirim surat pada FIFA yang berisi bahwa 12 klub IPL merupakan anggota 18 klub ISL, padahal jelas – jelas ISL merupakan kompetisi yang diharamkan menurut PSSI di era Djohar Arifin.

Atas keputusan-keputusan yang tidak rasional ini akhirnya menimbulkan konflik yang tidak kunjung usai. Sehingga prestasi tim nasional Indonesia menjadi kabing hitam dari konflik ini. Rentetan masa paceklik yang dialami oleh Tim Nasional Indonesia ini dilansir akibat keputusan-keputusan Ketua Umum yang mementingkan satu golongan saja. Di tambah lagi berbagai peristiwa yang terus-menerus mendera bangsa ini tidak bisa dipungkiri turut membuat persepak bolaan di Indonesia semakin terpuruk dalam hal prestasi, baik di tingkat regional maupun internasional.
Organisasi yang Efektif dan Efisien
            Sebaiknya PSSI lebih mementingkan kemajuan persepak bolaan di Indonesia daripada sibuk mengurusi konflik dengan lembaga lain. Jika PSSI tidak segera menyelesaikan konflik ini maka bukan memajukan persepak bolaan tetapi malah menghancurkan persepak bolaan di Indonesia. Masih banyak yang harus dibenahi dalam organisasi ini baik masalah intern maupun masalah eksternnya. Sehingga PSSI menjadi organisasi yang mampu memajukan melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan bersama. Yang harus diperhatikan oleh pemimpin PSSI dalam membuat organisasi yang efektif dan efisien adalah :
1.      Sasarannya Jelas
Disini seorang pemimpin harus membuat suatu sasaran yang akan dicapai oleh organisasi dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah disepakati sebelumnya. Dan pemimpin harus mengarahkan atau mendorong anggotanya untuk saling bekerja sama mencapai tujuan bersama tersebut.
2.      Keterampilan relevan
Tim yang efektif haruslah terdiri dari anggota-anggota yang memiliki keterampilan dan kemampuan yang relevan baik keterampilan teknis maupun keterampilan antar-pribadi.
3.      Saling percaya
Tim yang efektif bercirikan kepercayaan timbal balik yang tinggi di kalangan anggota, artinya anggota-anggota yakin akan integritas, watak, dan kemampuan satu sama yang lain. Organisasi haruslah menciptakan budaya yang penuh kepercayaan dengan menghargai keterbukaan, kejujuran, dan proses kerja sama dan yang mendorong keterlibatan karyawan serta otonomi karyawan.
4.      Komitmen yang disatukan
Para anggota tim yang efektif menampilkan dedikasi dan loyalitas yang hebat terhadap timnya. Mereka rela melakukan apa saja yang harus dilakukan untuk menolong berhasilnya tim mereka.
5.      Komunikasi yang baik
Anggota-anggota mampu menyampaikan pesan-pesan satu sama lain yang gampang dan dimengerti dengan jelas baik verbal maupun lisan



6.      Keterampilan negosiasi
Tim yang efektif cenderung bersifat fleksibel dan terus-menerus membuat penyesuaian. Fleksibilitas ini menuntut anggota-anggota tim untuk memiliki keterampilan negosiasi yang memadai
7.      Kepemimpinan yang memadai
Pemimpin yang efektif daapt memotivasi suatu tim untuk mengikuti mereka menempuh situasi-situasi yang paling sulit dengan cara membantu memperjelas tujuan.
8.      Dukungan Internal dan Eksternal
Maksudnya adalah iklim yang mendukung. Tim harus diberikan infrastruktur yang memadai seperti pelatihan, sistem pengukuran yang dimengerti oleh tim untuk mengevaluasi kinerja keseluruhan. Secara eksternal, manajemen harus memberikan sumberdaya yang dibutuhkan. Dapat juga membentuk iklim secara eksternal yang mendukung pekerjaan tim.

Jika semuanya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan  maka organisasi yang efektif dan efisien sudah dapat dikatakan berhasil dilakukan.  









Tidak ada komentar:

Posting Komentar