Minggu, 17 Maret 2013

Makalah Kebudayaan Tato Mentawai


ABSTRAK
Kepulauan Mentawai terletak disebelah barat Sumatra Barat. Kepulauan tersebut terdiri dari tiga pulau besar yakni; Siberut, Sipora, Pagai dan sekitar 40 pulau kecil. Suku Mentawai mempunyai ciri-ciri fisik berkulit kuning, mata cenderung menyipit, rambut lurus dan tubuh pendek. Selain itu, suku Mentawai juga memiliki ragam kebudayaan antara lain seni mentato tubuh yang biasanya dijadikan upacara inisiasi (peralihan masa kanak-kanak ke masa remaja) bagi laki-laki dan perempuan suku Mentawai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan seni tato di suku Mentawai dengan menggunakan metode detail dan teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan tato Mentawai sebenarnya berasal dari kebudayaan Dongson di Vietnam. Dan diduga, dari sinilah orang Mentawai berasal. Tato dalam suku Mentawai berfungsi sebagai jati diri suku yang mempunyai kedudukan yang paling utama. Sehingga tato juga dapat mengkomunikasikan seseoramg dalam masyarakat, baik jenis kelamin, usia maupun jabatan dari suku tersebut.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia secara menyeluruh baik yang masih hidup, mati bahkan fosil-fosilnya. Dari hal tersebut dapat diketahui  perkembangan manusia mulai zaman dahulu hingga sekarang sehingga dapat membedakan keanekaragaman manusia mulai dari tradisi, nilai, kebudayaan, maupun perilaku antar individu. Dari keanekaragaman itulah dapat diketahui bahwa disuatu daerah tertentu terdapat kebudayaan yang berbeda dan menarik sehingga menjadi ciri khas negara atau suku.tersebut. Antropologi adalah ilmu yang secara khusus mempelajari perilaku manusia mulai hubungannya dengan sesama individu maupun dengan kelompok. Ilmu antropogi lebih mendasarkan pendekatan secara langsung atau dengan kata lain langsung terjun ke lapangan untuk mengamati fenomena kebudayaan suatu daerah tertentu. Sehingga dengan kata lain kita langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar dengan demikian dapat tercipta hubungan sosial dengan baik.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan anthropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Seperti kebudayaan berpakaian, bergaya, hingga bermusik. Kebudayaan tersebut adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian suatu suku atau negara. Kita bisa melihat kebudayaan mentato tubuh dari suku mentawai atau suku dayak yang dulunya kebudayaan tersebut bernilai religious dan magis pada masyarakat tersebut, tetapi sekarang mengalami pergeseran makna menjadi sebuah seni menghias tubuh dalam masyarakat modern. Katika tato tidak menjadi simbolisasi lagi maka ia akan kehilangan nilai sakralitasnya. Pada akhirnya tato masuk ke jurang stigmatisasi yang bernada bahwa tato adalah symbol penjahat, bajingan, dan sebagainya.
Dari kebudayaan tato yang sudah beralih makna tersebut mucul banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai kebudayaan itu. Bagaimana kebudayaan tato bisa beralih makna ? apa yang menyebabkan ? apakah ada factor modernisani yang mempengaruhi kebudayaan tersebut sehingga berubah makna ? itulah permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam bab-bab selanjutnya.

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.2.1   Bagaimana sejarah perkembangan tato disuku Mentawai ?
1.2.2    Apa fungsi kebudayaan tato bagi suku Mentawai ?
1.2.3   Bagaimana proses dan ritual penatoan dalam suku Mentawai ?

1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Dapat mengetahui kebudayaan suku lain, latar belakang budaya dari perilaku suku lain, serta proses-proses perubahan sosial budaya dan sifat-sifat semua jenis manusia.
1.3.2 Dapat mengetahui pola prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh maupun pola prilaku manusia dalam masyarakat.

BAB 2
TINJAUAN
2.1 Pemahaman Materi
Antropologi merupakan gabungan dua konsep, yaitu antropos yang berarti manusia dan logos ialah ilmu. Artinya ilmu yang mempelajari tentang aspek manusia. Meskipun banyak ilmu yang mengkaji manusia, titik kajian antropologilebih pada ; (1) masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai mahluk sosial, (2) masalah sejarah terjadinya aneka warna mahluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, (3) masalah penyebaran dan terjadinya aneka warna bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia, (4) masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka dari warna kebudayaan manusia diseluruh dunia (5) dan masalah dasar-dasar aneka warna kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dan suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumizaman sekarang ini.
Pokok-pokok masalah ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Koentjaraningrat, menggambarkan pandanganya tentang ilmu antropologi yang bercorak dan berperspektif evolusionik. Dalam perspektif ini, diasumsikan bahwa kebudayaan itu berevolusi sedemikian rupa melalui proses perkembangan. Dalam pembagian yang lebih menekankan pada pembidangan secara luas, antropologi dibagi menjadi tiga bidang yaitu, antropologi fisik, antropologi budaya, dan antropologi sosial. Antropologi fisik mengkaji keanekaragaman fisik manusia dan perkembangannya. Ciri fisik itu meliputi warna kulit, ukuran tinngi badan, ukuran tengkorak, otak dan badan. Pengelompokan manusia secara ciri fisik tersebut disebut sebagai ras manusia.
Antropologi budaya mengkaji manusia dalam dimensi kebudayaan yang dimilikinya baik yang menyangkut bahasa, tulisan, seni, ilmu pengetahuan, dan totalitas kehidupan manusia. Selain itu juga terdapat etnologiyang mengkaji dasar-dasar kebudayaan manusia dari berbagai suku bangsa. Misalnya tentang etnis Jawa, Madura, dan Bali, kemudian bagaimana kebudayaan tersebut dimilikinya. Antropologi sosial disebut sebagai generalizing approach yang mengkaji prinsip-prinsip persamaan dibelakang aneka ragam masyarakat dan kebudayaannya dari kelompok-kelompok manusia didunia. Melalui generalizing approach ini, akhirnya bisa berkembang berbagai macam subbidang didalam antropologi, misalnya antropologi ekonomi, antopologi politik, dan antropologi agama.
Menurut perkembangan sejarah, antropologi mengalami perkembangan dari satu episode aliran ke aliran lain atau dari satu perspektif ke perspektif lainnya. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, selalu tidak berangkat dari ranah kosong, tetapi kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. Antropologi sebagai suatu bidang atau disiplin didalam ilmu sosial juga mengalami proses serupa dengan ilmu-ilmu lainnya bahkan ilmu-ilmu alam. Sebagai disiplin ilmu yang mandiri, antropologi mula-mula berkembang di Inggris pada pertengahan abad ke-19. Salah seorang yang mengembangkan perspektif ini ialah Edward Burnett Taylor (1894-1941) yang menghasilkan teori magi melaui karya klasik The Golden Bough, selain ada nama R.R Marett yang menemukan teori dinamisme dan juga ada Andrew Lang yang menemukan teori dewa tertinggi.
Dalam perspektif aliran antropologi yang tertua ini, kebudayaan adalah sebagian sistem yang berupa gagasan, kelakuan dan hasil kelakuan yang mencaku tiga hal, yaitu kebudayaan sebagai sistem gagasan, kebudayaan sebagai sistem hasil kelakuan. Dalam kata yang sederhana dapat dinyatakan bahwa kebudayaan ialah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa mengalami perubahan secara lambat tetapi pasti atau yang dikonsepsikan sebagai perubahan evolusioner. Dan dari kebudayaan primitive ke kebudayaan modern. Perubahan kebudayaan tersebut terkait dengan proses masuknya berbagai macam kebudayaan dari tempat, suku, dan ras lain atau juga karena proses sosial yang terus berubah.
Aliran dalam antropologi
Ø  Aliran Strukturalisme Perancis
Merupakan analisa kebudayaan Levi Straus, kebudayaan manusia seperti yang dinyatakan dalam kesenian, pola kehidupan sehari-hari dan upacara-upacara sebagai perwakilan lahiriah dari struktur pemikiran manusia.

Ditambahakan oleh Durkheim, bahwa manusia tidak ada artinya tanpa masyarakat karena ide berasal dari masyarakat sehingga kebudayaan lahir dari pemahaman manusia terhadap masyarakat.
2.2 Metode Penelitian
1.  Alat pengumpulan data
a.  Metode
Metode yang digunakan adalah Penelitian  Deskriptif yang yang bertujuan untuk  membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
b.    Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian, pendekatan penelitian yang kami gunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini lebih menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam (verstehen), penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti kebudayaan suatu daerah. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
                  
2.  Teknik Pengumpulan Data
Dalam makalah ini, untuk mendapat data dan informasi yang diperlukan, kami mempergunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka atau literature ini dilakukan dengan cara mendapatkan data atau informasi tertulis yang bersumber dari buku-buku dan berbagai artikel di internet yang menurut kami dapat mendukung penelitian ini.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Perkembangan Tato Suku Mentawai
Secara kebahasaan, tato mempunyai istilah yang nyaris sama digunakan diberbagai belahan dunia. Beberapa diantaranya adalah tatoage, tatouage, tatuar, tattoos, tatu dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, kata tato merupakan pengindonesiaan dari kata tattoo yang berarti goresan, gambar atau lambing yang membentuk suatu disain pada kulit tubuh. Di Indonesia banyak suku-suku yang mentato bagian tubuhnya sebagai lambang jati diri dari sukunya. Seperti kebudayaan mentato dari suku Mentawai yang dulunya berasal dari budaya Dongson di Vietnam. Dari Dongson mereka berlayar ke samudra pasifik dan selandia baru. Akibatnya, kebudayaan tato tersebut masuk ke Indonesia dan berkembang di suku Mentawai hingga saat ini.
3.2 Fungsi Kebudayaan Tato Bagi Masyarakat Mentawai
Tato Mentawai luar biasa dan unik, memenuhi seluruh tubuh dari kepala sampaikaki, dan sarat dengan simbol dan makna. Bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Menurut Ady Rosa, yang pada 1992 menelusuri pusat kebudayaan Mentawaidi Pulau Siberut, ada sedikitnya empat kedudukan atau fungsi tato pada suku Mentawai.
1.    Fungsi Sosial
Tato memiliki fungsi untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Misalnya, tato dukun atau sikerei berbeda dengan tato ahliberburu. Ahli berburu dikenal lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi,rusa, kera, burung, atau buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu dibadannya
2.    Fungsi Kosmologis
Bagi masyarakat Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Bagi suku Mentawai, benda-benda seperti batu, hewan, dantumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. Mereka menganggap semua benda itumemiliki jiwa.
3.    Fungsi Estetis
Fungsi tato yang lain adalah keindahan atau memiliki fungsi estetis. Selainmentato tubuh mereka dengan simbol-simbol tertentu, masyarakat Mentawai jugaboleh mentato tubuh sesuai dengan kreativitasnya. Suku Mentawai pun bolehmenorehkan tato pada orang di luar suku Mentawai, sebagai bentuk seni.
4.    Fungsi Religius
Kedudukan atau fungsi tato yang menjadi dasar adalah fungsi religius,yang berhubungan dengan kepercayaan suku Mentawai, yaitu Arat Sabulungan.Istilah Arat Sabulungan berasal dari kata sa atau sekumpulan, dan bulung atau daun. Arat Sabulungan diartikan sebagai sekumpulan daun yang dirangkai dalamlingkaran yang terbuat dari pucuk enau atau rumbia, yang diyakini memiliki tenaga gaib kere atau ketse. Inilah yang kemudian dipakai sebagai media pemujaan terhadap Tai Kabagat Koat atau Dewa Laut, Tai Ka-leleu atau rohhutan dan gunung, dan Tai Ka Manua atau roh awang-awang.

3.3   Proses Dan Ritual Tato Mentawai
a.  Teknis pembuatan tato mentawai
Sebelum ditemukan logam dan jarum besi, pembuatan tato di mentawai mempunyai kemiripan dengan penatoan di daerah Polynesia. Alat pahat terbuat dari tulang binatang, cangkang, kerang mutiara, ataupun gigi hiu. Peralatan tato terdiri dari satu buah jarum, kayu kcil yang halus untuk pemukul, dan batok kelapa. Sebelum ditato, tubuh akan disketsa sesuai dengan ganbar yang diinginkan. Kemudian, sketsa tersebut akan ditusuk dengan jarum yang berasal dari duri yang diberi tangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat warna kedalam lapisan kulit. Pewarna yang dipakai adalah campuran daun pisang, arang tempurung kelapa dicampur dengan air tebu.
Langkah pertama adalah membuat garis gambar dikulit dengan jelaga dari asap lampu. Cara memperoleh jelaga adalah dengan menyulut lampu, kemudian di atas api lampu tersebut dtutupi dengan bato kelapa sehingga batok kelapa bagian dalam berwarna hitam. Jelaga tersebut kemudian dilumuri dengan jelaga kemudian diletakkan kekulit agar tertera. Langkah kedua adalah membuat formula dengan cara mencampur jelaga yang ada di batok kelapa dengan air tebu, kemudian ditempelkan dijarum. Jarum yang sudah dilekatkan formula kemudian ditancapkan sedikit demi sedikit ke kulit. Kemudian, jarum dipukul-pukul dengan alat yang berbentuk kayu kecil. Jarum dengan peganganya digenggam dengan tangan kanan, sedangkan pemukul dengan tangan kiri. Arah jarum mengikuti garis gambar yang telah tertera pada kulit. Pemukulan dilakukan secara perlahan agar jarum dapat masuk ke dalam kulit hingga berdarah. Permukaan kulit sering menjadi berdarah dan berwarna kebiruan. Memang sangat menyakitkan, namun karena diadakan dalam suatu upaya ritual dan penuh magis (dalam punen patiti), pembuatan tato tersebut tidaklah terlalu menyakitkan bagi anak-anak yang ditato. Namun demikian, biasanya selesai pembuatan tato, orang yang ditato akan mengalami demam selama beberapa hari.
Dewasa ini kebiasaan pembuatan tato pada orang mentawai mulai berangsur-angsur hilang, terutama pada anak-anak muda mentawai. Untuk menunjukkan jati diri sebagai anak mentawai, mereka hanya menato sebagian kecil tubuh. Diperkampungan mentawai yang lebih maju, seperti pulau sipagai dan sipora, dua pulau besar dikepulauan mentawai, kita tak lagi bisa menemukan tradisi ini. Di kawasan pendukung zona perkampungan tradisional itu sendiri, seperti desa Muntei dan Meileppet, tradisi ini juga sudah jarang. Kalaupun ada, yang menggunakan terbatas pada kaum tua atau kerei. Kaum muda lebih memilih menggunakan celana jins. Kabitpun lebih beralih fungsi menjadi lebih mirip menjadi jubbah dokter atau toga hakim yang hanya dipakai saat bertugas. Mungkin tradisi ini akan hilang jika tak segera ditangani dengan konsep pelestarian adat dan budaya yang jelas.

b.    Ritual tato mentawai
Arat sebulungan dipakai dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah dan pentatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig pada usia 11-12 tahun, orang tua memanggil sikerei dan rimata atau kepala suku kemudian akan berunding menentukan hari dan bulan pelaksanaan penatoan. Setelah itu akan dipilih seorang sipaiti atau seniman tato. Sipaitisebuah jabatan berdasarkan pengangkatan masyarakat, seperti dukun, melinkan profesi, dan hanya boleh dijalankan oleh laki-laki. Keahliannya harus dibayar dengan seekor babi.
Sebelum penatoan akan dilakukan punen enegat atau upacara inisiasi yang dipimpin oleh sikerei, diputurukat atau galeri milik sipaiti. Setelah itu tubuh anak yang akan ditato itu mulai digambar dengan lidi. Sketsa diatas tubuh itu kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat warna kedalam lapisan kulit. Pentatoan awal atau paypay sakoyuan itu dilakukan dibagian pangkal lengan. Ketika seorang anak menginjak dewasa, tatonya akan dilanjutkan dengan pola durukat didada, titik takep ditangan, titi rere pada paha dan kaki titi puso diatas perut kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung. Pada akirnya seluruh tubuh orang mentawai akan dipenuhi oleh tato.



BAB 3
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia mempunyai beragam seni dan kebudayaan. Salah satunya adalah kebudayaan mentato di suku Mentawai, suku Dayak dan masyarakat Bali. Dalam pemikiran masyarakat tersebut, tato tidak hanya sebagai seni menggambar pada media kulit tetapi lebih dari itu. Tato merupakan lambang jati diri dari sukunya masing-masing. Tetapi dewasa ini kebiasaan pembuatan tato pada orang mentawai mulai berangsur-angsur hilang, terutama pada anak-anak muda mentawai. Untuk menunjukkan jati diri sebagai anak mentawai, mereka hanya menato sebagian kecil tubuh. Sehingga diperkampungan mentawai yang lebih maju, seperti pulau sipagai dan sipora, dua pulau besar dikepulauan mentawai, kita tidak lagi bisa menemukan tradisi ini. Peralihan Ini disebabkan karena modernisasi yang mulai berkembang di kepulauan mentawai. Mungkin tradisi ini akan hilang jika tidak segera ditangani dengan konsep pelestarian adat dan budaya yang jelas.




DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Hatib. 2006. Tato. LKiS,  Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1974. Pengantar Antropologi. Aksara Baru, Jakarta.

Sutardi, Tedi. 2007. Antropogi : Mengungkap Keragaman Budaya. PT Setia Purnama Inves, Bandung.

Ihromi, T.O. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Nasir, Ridlwan. 2007.  Madzab-Madzab Antropologi. LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta.

http://labsky2012b.blogspot.com/2012/09/tugas-5-perkembangan-tatto.html diakses pada 28 februari 2013.

http://www.scribd.com/doc/114332193/Tato-pada-Masyarakat-Tradisional-Suku-Mentawai-Dayak-dan-Sumba diakses pada 28 februari 2013.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar