ABSTRAK
Kepulauan
Mentawai terletak disebelah barat Sumatra Barat. Kepulauan tersebut terdiri
dari tiga pulau besar yakni; Siberut, Sipora, Pagai dan sekitar 40 pulau kecil.
Suku Mentawai mempunyai ciri-ciri fisik berkulit kuning, mata cenderung
menyipit, rambut lurus dan tubuh pendek. Selain itu, suku Mentawai juga
memiliki ragam kebudayaan antara lain seni mentato tubuh yang biasanya
dijadikan upacara inisiasi (peralihan masa kanak-kanak ke masa remaja) bagi
laki-laki dan perempuan suku Mentawai. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perkembangan seni tato di suku Mentawai dengan menggunakan metode
detail dan teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan tato
Mentawai sebenarnya berasal dari kebudayaan Dongson di Vietnam. Dan diduga,
dari sinilah orang Mentawai berasal. Tato dalam suku Mentawai berfungsi sebagai
jati diri suku yang mempunyai kedudukan yang paling utama. Sehingga tato juga
dapat mengkomunikasikan seseoramg dalam masyarakat, baik jenis kelamin, usia
maupun jabatan dari suku tersebut.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Antropologi
adalah ilmu yang mempelajari manusia secara menyeluruh baik yang masih hidup,
mati bahkan fosil-fosilnya. Dari hal tersebut dapat diketahui perkembangan manusia mulai zaman dahulu
hingga sekarang sehingga dapat membedakan keanekaragaman manusia mulai dari
tradisi, nilai, kebudayaan, maupun perilaku antar individu. Dari keanekaragaman
itulah dapat diketahui bahwa disuatu daerah tertentu terdapat kebudayaan yang
berbeda dan menarik sehingga menjadi ciri khas negara atau suku.tersebut.
Antropologi adalah ilmu yang secara khusus mempelajari perilaku manusia mulai
hubungannya dengan sesama individu maupun dengan kelompok. Ilmu antropogi lebih
mendasarkan pendekatan secara langsung atau dengan kata lain langsung terjun ke
lapangan untuk mengamati fenomena kebudayaan suatu daerah tertentu. Sehingga
dengan kata lain kita langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar dengan
demikian dapat tercipta hubungan sosial dengan baik.
Antropologi
memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap
dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan
anthropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan
budaya antar manusia. Seperti kebudayaan berpakaian, bergaya, hingga bermusik.
Kebudayaan tersebut adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian
suatu suku atau negara. Kita bisa melihat kebudayaan mentato tubuh dari suku
mentawai atau suku dayak yang dulunya kebudayaan tersebut bernilai religious
dan magis pada masyarakat tersebut, tetapi sekarang mengalami pergeseran makna
menjadi sebuah seni menghias tubuh dalam masyarakat modern. Katika tato tidak
menjadi simbolisasi lagi maka ia akan kehilangan nilai sakralitasnya. Pada
akhirnya tato masuk ke jurang stigmatisasi yang bernada bahwa tato adalah
symbol penjahat, bajingan, dan sebagainya.
Dari
kebudayaan tato yang sudah beralih makna tersebut mucul banyak
pertanyaan-pertanyaan mengenai kebudayaan itu. Bagaimana kebudayaan tato bisa
beralih makna ? apa yang menyebabkan ? apakah ada factor modernisani yang
mempengaruhi kebudayaan tersebut sehingga berubah makna ? itulah
permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam bab-bab selanjutnya.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1.2.1 Bagaimana
sejarah perkembangan tato disuku Mentawai ?
1.2.2 Apa fungsi kebudayaan tato bagi suku Mentawai ?
1.2.3 Bagaimana
proses dan ritual penatoan dalam suku Mentawai ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Dapat mengetahui kebudayaan
suku lain, latar belakang budaya dari perilaku suku lain, serta proses-proses
perubahan sosial budaya dan sifat-sifat semua jenis manusia.
1.3.2
Dapat mengetahui pola prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh
maupun pola prilaku manusia dalam masyarakat.
BAB 2
TINJAUAN
2.1 Pemahaman Materi
Antropologi
merupakan gabungan dua konsep, yaitu antropos yang berarti manusia dan logos ialah
ilmu. Artinya ilmu yang mempelajari tentang aspek manusia. Meskipun banyak ilmu
yang mengkaji manusia, titik kajian antropologilebih pada ; (1) masalah sejarah
terjadinya dan perkembangan manusia sebagai mahluk sosial, (2) masalah sejarah
terjadinya aneka warna mahluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya,
(3) masalah penyebaran dan terjadinya aneka warna bahasa yang diucapkan manusia
diseluruh dunia, (4) masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka
dari warna kebudayaan manusia diseluruh dunia (5) dan masalah dasar-dasar aneka
warna kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dan suku bangsa yang
tersebar di seluruh muka bumizaman sekarang ini.
Pokok-pokok
masalah ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Koentjaraningrat, menggambarkan
pandanganya tentang ilmu antropologi yang bercorak dan berperspektif
evolusionik. Dalam perspektif ini, diasumsikan bahwa kebudayaan itu berevolusi
sedemikian rupa melalui proses perkembangan. Dalam pembagian yang lebih
menekankan pada pembidangan secara luas, antropologi dibagi menjadi tiga bidang
yaitu, antropologi fisik, antropologi budaya, dan antropologi sosial.
Antropologi fisik mengkaji keanekaragaman fisik manusia dan perkembangannya.
Ciri fisik itu meliputi warna kulit, ukuran tinngi badan, ukuran tengkorak,
otak dan badan. Pengelompokan manusia secara ciri fisik tersebut disebut
sebagai ras manusia.
Antropologi
budaya mengkaji manusia dalam dimensi kebudayaan yang dimilikinya baik yang
menyangkut bahasa, tulisan, seni, ilmu pengetahuan, dan totalitas kehidupan
manusia. Selain itu juga terdapat etnologiyang mengkaji dasar-dasar kebudayaan
manusia dari berbagai suku bangsa. Misalnya tentang etnis Jawa, Madura, dan
Bali, kemudian bagaimana kebudayaan tersebut dimilikinya. Antropologi sosial
disebut sebagai generalizing approach yang mengkaji prinsip-prinsip persamaan
dibelakang aneka ragam masyarakat dan kebudayaannya dari kelompok-kelompok
manusia didunia. Melalui generalizing approach ini, akhirnya bisa berkembang
berbagai macam subbidang didalam antropologi, misalnya antropologi ekonomi,
antopologi politik, dan antropologi agama.
Menurut
perkembangan sejarah, antropologi mengalami perkembangan dari satu episode
aliran ke aliran lain atau dari satu perspektif ke perspektif lainnya. Sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan, selalu tidak berangkat dari ranah kosong, tetapi
kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. Antropologi sebagai suatu bidang atau
disiplin didalam ilmu sosial juga mengalami proses serupa dengan ilmu-ilmu
lainnya bahkan ilmu-ilmu alam. Sebagai disiplin ilmu yang mandiri, antropologi
mula-mula berkembang di Inggris pada pertengahan abad ke-19. Salah seorang yang
mengembangkan perspektif ini ialah Edward Burnett Taylor (1894-1941) yang
menghasilkan teori magi melaui karya klasik The Golden Bough, selain ada nama
R.R Marett yang menemukan teori dinamisme dan juga ada Andrew Lang yang
menemukan teori dewa tertinggi.
Dalam
perspektif aliran antropologi yang tertua ini, kebudayaan adalah sebagian
sistem yang berupa gagasan, kelakuan dan hasil kelakuan yang mencaku tiga hal,
yaitu kebudayaan sebagai sistem gagasan, kebudayaan sebagai sistem hasil
kelakuan. Dalam kata yang sederhana dapat dinyatakan bahwa kebudayaan ialah
hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis,
melainkan bisa mengalami perubahan secara lambat tetapi pasti atau yang
dikonsepsikan sebagai perubahan evolusioner. Dan dari kebudayaan primitive ke
kebudayaan modern. Perubahan kebudayaan tersebut terkait dengan proses masuknya
berbagai macam kebudayaan dari tempat, suku, dan ras lain atau juga karena
proses sosial yang terus berubah.
Aliran
dalam antropologi
Ø Aliran
Strukturalisme Perancis
Merupakan analisa kebudayaan
Levi Straus, kebudayaan manusia seperti yang dinyatakan dalam kesenian, pola kehidupan
sehari-hari dan upacara-upacara sebagai perwakilan lahiriah dari struktur
pemikiran manusia.
Ditambahakan oleh Durkheim, bahwa
manusia tidak ada artinya tanpa masyarakat karena ide berasal dari masyarakat
sehingga kebudayaan lahir dari pemahaman manusia terhadap masyarakat.
2.2 Metode Penelitian
1. Alat
pengumpulan data
a. Metode
Metode
yang digunakan adalah
Penelitian
Deskriptif yang yang
bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat
mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
b. Pendekatan
Penelitian
Dalam
penelitian, pendekatan penelitian yang kami gunakan adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan ini lebih menekankan pada makna dan pemahaman dari dalam
(verstehen), penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks
tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari seperti kebudayaan suatu daerah. Tujuan penelitian biasanya
berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
2. Teknik
Pengumpulan Data
Dalam makalah ini, untuk mendapat data dan informasi
yang diperlukan, kami mempergunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka
atau literature ini dilakukan dengan cara mendapatkan data atau informasi
tertulis yang bersumber dari buku-buku
dan berbagai artikel di internet yang menurut kami dapat mendukung penelitian
ini.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Perkembangan Tato Suku
Mentawai
Secara kebahasaan, tato
mempunyai istilah yang nyaris sama digunakan diberbagai belahan dunia. Beberapa
diantaranya adalah tatoage, tatouage,
tatuar, tattoos, tatu dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, kata tato
merupakan pengindonesiaan dari kata tattoo
yang berarti goresan, gambar atau lambing yang membentuk suatu disain pada
kulit tubuh. Di Indonesia banyak suku-suku yang mentato bagian tubuhnya sebagai
lambang jati diri dari sukunya. Seperti kebudayaan mentato dari suku Mentawai
yang dulunya berasal dari budaya Dongson di Vietnam. Dari Dongson mereka
berlayar ke samudra pasifik dan selandia baru. Akibatnya, kebudayaan tato
tersebut masuk ke Indonesia dan berkembang di suku Mentawai hingga saat ini.
3.2 Fungsi Kebudayaan Tato Bagi
Masyarakat Mentawai
Tato Mentawai luar biasa dan unik, memenuhi seluruh
tubuh dari kepala sampaikaki, dan sarat dengan simbol dan makna. Bagi orang
Mentawai, tato merupakan roh kehidupan.
Menurut Ady Rosa, yang pada 1992 menelusuri pusat kebudayaan Mentawaidi Pulau
Siberut, ada sedikitnya empat kedudukan atau fungsi tato pada suku Mentawai.
1.
Fungsi
Sosial
Tato memiliki fungsi untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial
atau profesi. Misalnya, tato dukun atau
sikerei berbeda dengan tato ahliberburu.
Ahli berburu dikenal lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi,rusa,
kera, burung, atau buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu
dibadannya
2.
Fungsi
Kosmologis
Bagi masyarakat Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan
alam. Bagi suku Mentawai, benda-benda seperti batu, hewan, dantumbuhan harus
diabadikan di atas tubuh. Mereka menganggap semua benda itumemiliki jiwa.
3.
Fungsi
Estetis
Fungsi tato yang lain adalah keindahan atau memiliki fungsi estetis.
Selainmentato tubuh mereka dengan simbol-simbol tertentu, masyarakat Mentawai
jugaboleh mentato tubuh sesuai dengan kreativitasnya. Suku Mentawai pun bolehmenorehkan
tato pada orang di luar suku Mentawai, sebagai bentuk seni.
4.
Fungsi
Religius
Kedudukan atau fungsi tato yang menjadi dasar adalah fungsi
religius,yang berhubungan dengan kepercayaan suku Mentawai, yaitu Arat
Sabulungan.Istilah Arat Sabulungan berasal dari kata sa atau sekumpulan, dan bulung atau
daun. Arat Sabulungan diartikan sebagai sekumpulan daun yang dirangkai
dalamlingkaran yang terbuat dari pucuk enau atau rumbia, yang diyakini memiliki
tenaga gaib kere atau ketse. Inilah yang kemudian dipakai sebagai media pemujaan
terhadap Tai Kabagat Koat atau Dewa Laut, Tai Ka-leleu atau rohhutan dan
gunung, dan Tai Ka Manua atau roh awang-awang.
3.3
Proses Dan Ritual Tato Mentawai
a. Teknis pembuatan tato mentawai
Sebelum
ditemukan logam dan jarum besi, pembuatan tato di mentawai mempunyai kemiripan
dengan penatoan di daerah Polynesia. Alat pahat terbuat dari tulang binatang,
cangkang, kerang mutiara, ataupun gigi hiu. Peralatan tato terdiri dari satu
buah jarum, kayu kcil yang halus untuk pemukul, dan batok kelapa. Sebelum
ditato, tubuh akan disketsa sesuai dengan ganbar yang diinginkan. Kemudian,
sketsa tersebut akan ditusuk dengan jarum yang berasal dari duri yang diberi
tangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk
memasukkan zat warna kedalam lapisan kulit. Pewarna yang dipakai adalah
campuran daun pisang, arang tempurung kelapa dicampur dengan air tebu.
Langkah pertama
adalah membuat garis gambar dikulit dengan jelaga dari asap lampu. Cara
memperoleh jelaga adalah dengan menyulut lampu, kemudian di atas api lampu
tersebut dtutupi dengan bato kelapa sehingga batok kelapa bagian dalam berwarna
hitam. Jelaga tersebut kemudian dilumuri dengan jelaga kemudian diletakkan
kekulit agar tertera. Langkah kedua adalah membuat formula dengan cara
mencampur jelaga yang ada di batok kelapa dengan air tebu, kemudian ditempelkan
dijarum. Jarum yang sudah dilekatkan formula kemudian ditancapkan sedikit demi
sedikit ke kulit. Kemudian, jarum dipukul-pukul dengan alat yang berbentuk kayu
kecil. Jarum dengan peganganya digenggam dengan tangan kanan, sedangkan pemukul
dengan tangan kiri. Arah jarum mengikuti garis gambar yang telah tertera pada
kulit. Pemukulan dilakukan secara perlahan agar jarum dapat masuk ke dalam
kulit hingga berdarah. Permukaan kulit sering menjadi berdarah dan berwarna
kebiruan. Memang sangat menyakitkan, namun karena diadakan dalam suatu upaya
ritual dan penuh magis (dalam punen patiti), pembuatan tato tersebut tidaklah
terlalu menyakitkan bagi anak-anak yang ditato. Namun demikian, biasanya
selesai pembuatan tato, orang yang ditato akan mengalami demam selama beberapa
hari.
Dewasa ini
kebiasaan pembuatan tato pada orang mentawai mulai berangsur-angsur hilang,
terutama pada anak-anak muda mentawai. Untuk menunjukkan jati diri sebagai anak
mentawai, mereka hanya menato sebagian kecil tubuh. Diperkampungan mentawai
yang lebih maju, seperti pulau sipagai dan sipora, dua pulau besar dikepulauan
mentawai, kita tak lagi bisa menemukan tradisi ini. Di kawasan pendukung zona
perkampungan tradisional itu sendiri, seperti desa Muntei dan Meileppet,
tradisi ini juga sudah jarang. Kalaupun ada, yang menggunakan terbatas pada
kaum tua atau kerei. Kaum muda lebih
memilih menggunakan celana jins. Kabitpun lebih beralih fungsi menjadi lebih
mirip menjadi jubbah dokter atau toga hakim yang hanya dipakai saat bertugas.
Mungkin tradisi ini akan hilang jika tak segera ditangani dengan konsep
pelestarian adat dan budaya yang jelas.
b.
Ritual
tato mentawai
Arat sebulungan
dipakai dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah
dan pentatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig pada usia 11-12 tahun,
orang tua memanggil sikerei dan rimata atau kepala suku kemudian akan berunding
menentukan hari dan bulan pelaksanaan penatoan. Setelah itu akan dipilih
seorang sipaiti atau seniman tato. Sipaitisebuah jabatan berdasarkan
pengangkatan masyarakat, seperti dukun, melinkan profesi, dan hanya boleh
dijalankan oleh laki-laki. Keahliannya harus dibayar dengan seekor babi.
Sebelum
penatoan akan dilakukan punen enegat atau upacara inisiasi yang dipimpin oleh
sikerei, diputurukat atau galeri milik sipaiti. Setelah itu tubuh anak yang
akan ditato itu mulai digambar dengan lidi. Sketsa diatas tubuh itu kemudian
ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan
dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat warna kedalam lapisan kulit. Pentatoan
awal atau paypay sakoyuan itu dilakukan dibagian pangkal lengan. Ketika seorang
anak menginjak dewasa, tatonya akan dilanjutkan dengan pola durukat didada,
titik takep ditangan, titi rere pada paha dan kaki titi puso diatas perut
kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung. Pada akirnya seluruh tubuh
orang mentawai akan dipenuhi oleh tato.
BAB 3
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia
mempunyai beragam seni dan kebudayaan. Salah satunya adalah kebudayaan mentato
di suku Mentawai, suku Dayak dan masyarakat Bali. Dalam pemikiran masyarakat
tersebut, tato tidak hanya sebagai seni menggambar pada media kulit tetapi
lebih dari itu. Tato merupakan lambang jati diri dari sukunya masing-masing.
Tetapi dewasa ini kebiasaan pembuatan tato
pada orang mentawai mulai berangsur-angsur hilang, terutama pada anak-anak muda
mentawai. Untuk menunjukkan jati diri sebagai anak mentawai, mereka hanya
menato sebagian kecil tubuh. Sehingga diperkampungan mentawai yang lebih maju,
seperti pulau sipagai dan sipora, dua pulau besar dikepulauan mentawai, kita
tidak lagi bisa menemukan tradisi ini. Peralihan Ini disebabkan karena
modernisasi yang mulai berkembang di kepulauan mentawai. Mungkin tradisi ini
akan hilang jika tidak segera ditangani dengan konsep pelestarian adat dan
budaya yang jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Hatib. 2006. Tato. LKiS, Yogyakarta.
Koentjaraningrat.
1974. Pengantar Antropologi. Aksara Baru, Jakarta.
Sutardi,
Tedi. 2007. Antropogi : Mengungkap Keragaman Budaya. PT Setia Purnama Inves,
Bandung.
Ihromi,
T.O. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Nasir,
Ridlwan. 2007. Madzab-Madzab
Antropologi. LKiS Pelangi
Aksara, Yogyakarta.
http://labsky2012b.blogspot.com/2012/09/tugas-5-perkembangan-tatto.html diakses pada 28 februari 2013.
http://www.scribd.com/doc/114332193/Tato-pada-Masyarakat-Tradisional-Suku-Mentawai-Dayak-dan-Sumba
diakses pada 28 februari 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar